PERAN PENDIDIKAN IPS DALAM MEMBIMBING SISWA MEMASUKI ERA GLOBALISASI

ARTIKEL:PERAN PENDIDIKAN IPS DALAM MEMBIMBING SISWA
MEMASUKI ERA GLOBALISASI
Oleh: Waspodo Tjipto Subroto
(Universitas Negeri Surabaya)

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Globalisasi yang telah dan sedang berlangsung cepat sejak dua dasa warsa terakhir menghadirkan sejumlah fenomena baru yang sangat kompleks, antara lain: adanya keterbukaan, kebebasan dan saling ketergantungan di semua dimensi kehidupan antar negara-negara dalam hubungan internasional. Hal ini bisa terjadi karena globalisasi itu sendiri menggerakkan suatu proses yang mengarah pada menyatunya masyarakat dunia, saling berhubungan dalam aspek kehidupan seperti: ekonomi, politik, teknologi, sosial, budaya dan lingkungan hidupnya (Tambunan, 2004). Bergulirnya proses globalisasi dewasa ini memunculkan fenomena memudarnya aspek-aspek kehidupan nasional, bahkan batas-batas wilayah nasional semakin buram (borderless) dan rentan terhadap pengaruh proses globalisassi yang terus berlangsung, terutama dalam aspek ekonomi dan politik suatu negara.
Globalisasi yang orientasinya mengarah pada liberalisasi ekonomi dan perdagangan, yang kemudian melebar pada aspek kehidupan politik dan sosial budaya pada hakekatnya merupakan suatu perubahan gaya hidup yang mendasarkan pada persaingan bebas di berbagai aspek kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Berakhirnya perang dingin antara blok barat dan blok timur, mendorong proses globalisasi semakin cepat, terutama dalam sektor ekonomi dan perdagangan (Robert Glipin, 2002) . Hal ini ditandai dengan semakin bebasnya pergerakan perusahaan multinasional yang melintas batas negara dan bangsa. Kegiatan ekonomi dunia meningkat terutama di negara-negara yang kegiatan ekonominya sudah mapan sehingga produktifitasnya semakin meningkat. Namun demikian bagi negara-negara yang belum siap teknologi dan sumber daya manusia ( SDM ) serta sosial budayanya, akan kesulitan dalam mengikuti pergerakan ekonomi dunia yang mengarah pada persaingan bebas.
Indonesia sebagai salah satu negara-negara di dunia tidak bisa menghindar dari pengaruh proses globalisasi. Dengan modal teknologi dan SDM serta kondisi sosial budaya yang dimilikinya, bangsa Indonesia harus menghadapi dan masuk pada proses globalisasi, yang setiap waktu mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Untuk mempersiapkan bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi salah satunya dengan melalui sosialisasi kondisi dan pengaruh era globalisasi pada generasi muda, sehingga warga Negara Indonesia memahami proses globalisasi dan pengaruhnya dalam kehidupan di lingkungan sekitarnya. Sosialisasi tersebut disampaikan melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sejak di Sekolah Dasar.
Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab serta menjadi warga dunia dunia yang cinta damai. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, di masa datang siswa akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. (KTSP 2006:75). Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan analisis terhadap kondisi sosial dalam memasuki kehidupan masyarakat global yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistimatis, komprehensif dan terpadu melalui proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam bermasyarakat. Bahkan secara eksplisit, mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. (2) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial dalam kehidupan sosial, (3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial kemanusiaan, dan (4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global. Jadi mata pelajara IPS dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.

B. Permasalahan
Dari uraian di atas dikemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kemampuan daya saing bangsa Indonesia dalam berpartisipasi pada era globalisasi?
2. Bagaimanakah peran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar dalam membimbing siswa untuk memasuki era globalisasi?
3. Bagaimanakah pengaruh era globalisasi dalam kehidupan sosial ekonomi bangsa Indonesia?

BAB II
Sumber Daya Manusia Indonesia dalam Persaingan Global

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global. Dalam kaitan tersebut, menurut Tambunan (2004: ii) setidaknya ada dua hal penting menyangkut kondisi SDM Indonesia, yaitu: Pertama, adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta. Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sector ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia. Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang.
Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya perguruan tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana merupakan kritik bagi perguruan tinggi, karena ketidakmampuannya dalam menciptakan iklim pendidikan yang mendukung kemampuan wirausaha mahasiswa. Menurut Damhuri (2005) masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM dalam menghadapi persaingan ekonomi global. Kenyataan ini belum menjadi kesadaran bagi bangsa Indonesia untuk kembali memperbaiki kesalahan pada masa lalu. Rendahnya alokasi APBN untuk sektor pendidikan (tidak lebih dari 12%) pada pemerintahan di era reformasi. Ini menunjukkan bahwa belum ada perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap perbaikan kualitas SDM. Padahal sudah saatnya pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah secara serius membangun SDM yang berkualitas. Sekarang bukan saatnya lagi Indonesia membangun perekonomian dengan kekuatan asing. Tapi sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumberdaya daya yang dimiliki (resources base) dengan kemampuan SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional. Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan pasar kerja. Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja. Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah adalah belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing di segala aspek kehidupan, terutama dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report (2005) menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh Negara ASEAN yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40). Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi yang akan dihadapi bangsa Indonesia antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: Produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional dan\atau buruh diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas. Jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui: TV, radio, media cetak dan lain-lain. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh KFC, Hoka Hoka Bento, Mac Donald, dll melanda pasar di mana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia –baik yang berdomisili di kota maupun di desa– menuju pada selera global.
Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi menjadi semakin cepat karena “less papers/documents” dalam perdagangan, tetapi dapat mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yang semakin canggih. Dengan kegiatan bisnis korporasi (bisnis corporate) di atas dapat dikatakan bahwa globalisasi mengarah pada meningkatnya ketergantungan ekonomi antarnegara melalui peningkatan volume dan keragaman transaksi antarnegara (cross-border transactions) dalam bentuk barang dan jasa, aliran dana internasional (international capital flows), pergerakan tenaga kerja (human movement) dan penyebaran teknologi informasi yang cepat. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti telah merupakan salah satu kekuatan yang memberikan pengaruh terhadap bangsa, masyarakat, kehidupan manusia, lingkungan kerja dan kegiatan bisnis corporate di Indonesia. Kekuatan ekonomi global menyebabkan bisnis korporasi perlu melakukan tinjauan ulang terhadap struktur dan strategi usaha serta melandaskan strategi manajemennya dengan basis entrepreneurship, cost,efficiency.dan.competitiveadvantages.

BAB III
PERSAINGAN BEBAS DALAM ERA GLOBALISASI

Masalah daya saing dalam era globalisasi semakin terbuka dan kondisi merupakan isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan saing yang tinggi niscaya kualitas bangsa suatu negara, termasuk bangsa Indonesia, tidak akan mampu bersaing pada dunia internasional. Bahkan masuknya tenaga ahli impor dapat mengancam posisi tenaga ahli domestik. Dengan kata lain, dalam pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan faktor yang desisif dalam meningkatkan kinerja suatu usaha. Oleh karena itu, upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif bagi SDM Indonesia tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi para pelaku usaha itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi dan anggota masyarakat serta diberbagai aspek kehidupan bernegara dan.berbangsa.
Realitas globalisasi yang demikian, menurut Nu’man Somantri (2001) membawa sejumlah implikasi bagi pengembangan SDM di Indonesia. Salah satu tuntutan globalisasi adalah daya saing. Daya saing bangsa Indonesia akan terwujud bila didukung oleh SDM yang handal. Untuk menciptakan SDM berkualitas dan handal yang diperlukan adalah pendidikan. Sebab dalam hal ini pendidikan dianggap sebagai mekanisme kelembagaan pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Pendidikan merupakan kegiatan investasi di mana pembangunan ekonomi sangat berkepentingan. Sebab bagaimanapun pembangunan nasional membutuhkan kualitas SDM yang unggul baik dalam kapasitas penguasaan IPTEK maupun sikap mental, sehingga dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus di kedepankan. Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan menurut Redi ( 2002 ) adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi. Visi pembangunan yang demikian kurang kondusif bagi pengembangan SDM, sehingga pendekatan fisik melalui pembangunan sarana dan prasarana pendidikan tidak diimbangi dengan tolok ukur kualitatif atau mutu pendidikan. Problem utama dalam pembangunan sumberdaya manusia adalah terjadinya missalocation of human resources. Pada era sebelum reformasi, pasar tenaga kerja mengikuti aliran ekonomi konglomeratif. Di mana tenaga kerja yang ada cenderung memasuki dunia kerja yang bercorak konglomeratif yaitu mulai dari sektor industri manufaktur sampai dengan perbankan. Dengan begitu, dunia pendidikan akhirnya masuk dalam kemelut ekonomi politik, yakni terjadinya kesenjangan ekonomi yang di akselerasi struktur pasar yang masih terdistorsi. Kenyataan menunjukkan banyak lulusan terbaik pendidikan masuk ke sektor-sektor ekonomi yang justru bukannya memecahkan masalah ekonomi, tapi malah memperkuat proses konsentrasi ekonomi dan konglomerasi, yang mempertajam kesenjangan ekonomi. Hal ini menurut Suhanaji (2004) terjadi karena visi SDM terbatas pada struktur pasar yang sudah ada dan belum sanggup menciptakan pasar sendiri, karena kondisi makro ekonomi yang memang belum kondusif untuk itu. Di sinilah dapat disadari bahwa visi pengembangan SDM melalui pendidikan terkait dengan kondisi ekonomi politik yang diciptakan pemerintah. Sementara pada pascareformasi belum ada proses egalitarianisme SDM yang dibutuhkan oleh struktur bangsa yang dapat memperkuat kemandirian bangsa. Pada era reformasi yang terjadi barulah relatif tercipta reformasi politik dan belum terjadi reformasi ekonomi yang substansial terutama dalam memecahkan problem struktural seperti telah diuraikan di atas. Sistem politik multipartai yang telah terjadi dewasa ini justru menciptakan oligarki partai untuk mempertahankan kekuasaan. Pemilu 1999 yang konon merupakan pemilu paling demokratis telah menciptakan oligarki politik dan ekonomi. Oligarki ini justru bisa menjadi alasan mengelak terhadap pertanggungjawaban setiap kegagalan pembangunan.
Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih belum mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang memang telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara di sisi lain Indonesia kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan globalisasi. Dengan begitu, seandainya bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan terhadap pelbagai kondisionalitas yang tercipta akibat globalisasi, maka yang akan terjadi adalah adanya gejala menjual diri bangsa dengan hanya mengandalkan sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah. Sehingga yang terjadi bukannya terselesaikannya masalah-masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi akan semakin menciptakan ketergantungan kepada negara maju karena utang luar negeri yang semakin berlipat. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan link and match mendapat tempat sebagai sebuah strategi yang mengintegrasikan pembangunan nasional dengan pendidikan. Namun sayangnya ide link and match yang tujuannya untuk menghubungkan kebutuhan tenaga kerja dengan dunia pendidikan belum ditunjang oleh kualitas kurikulum sekolah yang memadai untuk menciptakan lulusan yang siap pakai. Yang lebih penting dalam hal ini adalah strategi pembangunan dan industrialisasi secara makro yang seharusnya berbasis sumberdaya yang dimiliki, yakni kayanya sumberdaya alam (SDA). Kalau strategi ini tidak diciptakan maka yang akan terjadi adalah proses pengulangan kegagalan karena terjebak berkelanjutannya ketergantungan kepada utang luar negeri, teknologi, dan manajemen asing. Sebab SDM yang diciptakan dalam kerangka mikro hanya semakin memperkuat proses ketergantungan tersebut. Bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan SDA, memiliki posisi wilayah yang strategis (geo strategis), yakni sebagai negara kepulauan dengan luas laut 2/3 dari luas total wilayah; namun tidak mampu mengembalikan manfaat sumber kekayaan yang dimiliki kepada rakyat. Hal ini karena strategi pembangunan yang diciptakan tidak membangkitkan local genuin. Yang terjadi adalah sumber kekayaan alam Indonesia semakin mendalam dikuasai oleh asing. Sebab meskipun andaikata bangsa ini juga telah mampu menciptakan SDM yang kualifaid terhadap semua level IPTEK, namun apabila kebijakan ekonomi yang diciptakan tidak berbasis pada sumberdaya yang dimiliki (resources base), maka ketergantungan ke luar akan tetap berlanjut dan semakin dalam. Oleh karena itu harus ada shifting paradimn, agar proses pembangunan mampu mendorong terbentuknya berbagai keahlian yang bisa mengolah SDA dan bisa semakin memandirikan struktur ekonomi bangsa. Supaya visi tersebut pun terjadi di berbagai daerah, maka harus ada koreksi total kebijakan pembangunan di tingkat makro dengan berbasiskan kepada pluralitas daerah. Dengan demikian harapannya akan tercipta SDM yang mampu memperjuangkan kebutuhan dan penguatan masyarakat lokal. Karena untuk apa SDM diciptakan kalau hanya akan menjadi perpanjangan sistem kapitalisme global dengan mengorbankan kepentingan lokal dan nasional.
Untuk memoptimalkan peran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar, maka kurikulum IPS harus memuat materi dan kegiatan pembelajaran yang mengarahkan dan membina siswa menuju peningkatan daya saing dan mampu mengantisipasi persaingan di berbagai aspek kehidupan yang semakin ketat. KTSP 2006, sebagai kurikulum terbaru harus benar- benar mampu membimbing dan membina siswa ke arah peningkatan kualitas SDM dan kemampuan daya saing bangsa Indonesia yang semakin ketat di masa datang.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan uraian dan analisis dalam tulisan ini dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kemampuan daya saing bangsa Indonesia masih sangat perlu ditingkatkan agar mampu mengantisipasi kehidupan di era globalisasi yang tingkat persaingannya semakin ketat di masa depan. Paling tidak dalam menghadapi persaingan antara sesama negara di kawasan ASEAN.
2. Pendidikan IPS di Sekolah Dasar sebagai wahana untuk membimbing dan mengarahkan siswa memasuki era globalisasi, perlu dikembangkan kurikulum dan sarana penunjang pelaksanaannya untuk memberi wawasan global dan keterampilan dalam menghadapi permasalahan yang muncul dari persaingan global.
3. Pengaruh persaingan bebas di era globalisasi berdampak pada merosotnya kondisi sosial ekonomi bangsa-bangsa di Negara sedang berkembang, termasuk bangsa Indonesia akibat dari daya saing SDM yang masih rendah.

B. Saran-saran
Dari kesimpulan tersebut di atas dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1 Perlu dibuat kebijakan Pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan dan kemampuan daya saing bangsa Indonesia secara lebih serius, seperti: peningkatan alokasi dana pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945, yaitu sekurang-kurangnya 20 % dari APBN/APBD, sehingga sarana prasarana pendidikan bisa ditingkatkan dan kesejahteraan guru sebagai faktor dominan dalam pembelajaran bisa ditingkatkan.
2 Pendidikan IPS di Sekolah Dasar sebagai wahana untuk membimbing dan mengarahkan siswa memasuki era globalisasi, perlu menjalin kerjasama dengan mata pelajaran lain yang terkait dengan persaingan global, seperti: Matematika, Sains dan Bahasa Inggris, untuk memberi wawasan global dan keterampilan dalam menghadapi masalah yang muncul dari persaingan global.
3 Untuk mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi, mata pelajaran PKn di Sekolah Dasar perlu dikembangkan untuk membekali kepribadian siswa dari pengaruh negatif budaya asing yang masuk ke Indonesia.
4 Merosotnya kondisi sosial ekonomi bangsa-bangsa di Negara sedang berkembang, termasuk bangsa Indonesia akibat dari daya saing SDM yang masih rendah, perlu segera ditingkatkan dengan mengoptimalkan modal dasar (SDM dan SDA) untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Damhuri. 2005. Sumber Daya Manusia Indonesia dan Persaingan di Era Global. Bogor:
IPB, makalah seminar.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Mohammad Toha. 2002. Globalisasi, Krisis Ekonomi dan Kebangkitan Ekonomi
Kerakyatan. Jakarta: Pustaka Quantum

Nu’man Somantri.2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Bandung: Rosdakarya

Robert Glipin & Jean Millis Glipin. 2002. The Challange of Global Capitalism.
Columbia: University of Columbia

Redi Panuju, dkk. 2002. Globalisasi dan Pendidikan . Surabaya: Yayasan Pendidikan
Cendikia Utama

Suhanaji & Waspodo Tjipto. 2004. Modernisasi dan Globalisasi. Surabaya: Insan
Cendikia

Tulus Tambunan. 2004. Globalisasi dan Perdagangan Internasional. Bogor: Ghalia
Indonesia

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Sistim Pendidikan Nasional

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………… i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………… 1
B. Permasalahan……………………………………………………….. 3

BAB II SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DALAM PERSAINGAN
GLOBAL………………………………………………………………. 4

BAB III PERSAINGAN BEBAS DALAM ERA GLOBALISASI…………… 8

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan……………………………………………………………. 12
B. Saran-saran…………………………………………………………. 12

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 14

LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Surat Keterangan Panitia Seminar……………………………………. 15
2. Surat Tugas Dari Dekan FIP Unesa..…………………………………. 16

About these ads

Tentang WASPODO TJIPTO SUBROTO

Saya seorang dosen di S1 PGSD FIP Unesa dan Dosen S2 Dikdas Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Di S1 mengampu mata kuliah rumpun IPS dan PKn. Sedangkan di S2 mengampu mata kuliah Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Multikultural, Kesetaraan Gender, dan Pembelajaran IPS SD. Pengalaman mengajar sekitar 25 tahun.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s