ANALISIS PENGARUH INCOME TERHADAP KINERJA GURU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR KOTA SURBAYA

ARTIKEL:ANALISIS PENGARUH INCOME TERHADAP
KINERJA GURU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR
KOTA SURABAYA

Waspodo Tjipto Subroto
Universitas Negeri Surabaya. Email: waspodotjipto@yahoo.co.id

ABSTRACT

Incomes analisys for improvement to the performance of teachers to increase quality at elementary school in Surabaya City, and aimed to teachers incomes (salary, subsidy and honorarium ), teacher’s performance to education quality at elementary school in Surabaya City. The influence of teachers salary to teachers performance, subsidy to teachers performance, honorarium to teachers performance and teachers salary to education quality, subsidy to education quality, honorarium to education quality. Also the influence of teachers performance to increase education quality in elementary school.
Whole of the population are the teacher of elemantry school in Surabaya City which have totally of 942 schools and 12.443 teachers. Research sample came about 200 teachers by using stratified cluster sampling technique. Technical data analysis use SEM (Structural Equation Modelling) with AMOS program (Analisis of Moment Structure) Version 4.01.
Metodology of this reasearch, applying structural equation modelling analysis, the research findings that the intensive as followed. Result of this reasearch, salary conducted by the government salary and Institutions salary influenced to teachers performance and also influenced to education quality at elementary school. And than, subsidies conducted by the government in the forms of subsidies from center government, subsidies of regional government and subsidies from school committee influenced to Teacher’s performance and also influenced to education quality. Next, teachers honorarium with indicator incidental activities, extracurricular activities and learning activities influence to teachers performance, but do not influence to education quality.
Conclution of this research, income of the teachers influence increase of performance with indicator skill, attitude, knowledge and emotional intelligence influenced to increase education quality. Quality of elementary school increase with indicator value quantity and quality of learning.

Key Words : Teacher Incomes, performance, education quality

PENDAHULUAN
Dinamika perkembangan masyarakat melaju sangat pesat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menuntut semua pihak untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam di masyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memunculkan paradigma baru dalam mencapai keberhasilan, yaitu dengan persaingan. Tantangan persaingan yang semakin tajam pada era globalisasi menuntut peningkatan kualitas profesi dan efisiensi secara terus menerus, sehingga kemampuan daya saing profesional bisa lebih kompetitif.
Era globalisasi mengubah hakekat kerja dari amatiran menuju kepada profesionalisasi di segala bidang dan aspek kehidupan. Termasuk di dalam perubahan global adalah profesi guru. Sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat global, tugas guru juga dituntut profesional dalam bidangnya(Education International, 1998 : 112). Guru yang profesional bukan sekedar sebagai alat untuk transmisi kebudayaan akan tetapi mentransformasikan kebudayaan itu ke arah budaya yang dinamis dan menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, produktivitas yang tinggi dan kualitas karya yang mampu meningkatkan daya saing.
Investasi pembangunan pendidikan yang memadai akan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dengan efek berganda yang besar melalui pembangunan sekolah, pengadaan dan perawatan infrastruktur pendidikan, serta kualitas guru yang meningkat. Masyarakat yang berkualitas, menurut Daniel (2006) tidak saja sanggup meraih setiap peluang kerja yang tersedia melalui investasi, tetapi juga sanggup menciptakan lapangan kerja yang baru. Apalagi masalah pendidikan merupakan masalah lintas sektoral, sehingga harus ada komitmen dari semua pihak terutama para penentu kebijakan pendidikan untuk mengambil kebijakan yang berorientasi pada mutu pendidikan yang berkualitas. Sebab kebijakan peningkatan mutu pendidikan yang tinggi jika disikapi secara konsisten, akan menghasilkan lulusan yang kompeten, yang akhirnya mampu menghasilkan warga negara yang kompetitif dalan jumlah yang besar.
Program pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi sangat penting karena banyak permasalahan yang terdapat dalam institusi pemerintahan, lembaga kemasyarakatan dan berbagai kegiatan di masyarakat yang efektivitasnya tergantung kepada kualitas sumber daya manusia, baik dalam kemampuan intelektual maupun integritas moral dalam tanggung jawabnya pada kemasyarakatan.
Sumber daya manusia, menurut Damanhuri (2004) merupakan salah satu faktor kunci dalam menuju kesejahteraan. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi, menjadi tuntutan pembangunan ekonomi. Globalisasi ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan yang menyatukan kekuatan pasar semakin terintegrasi untuk efisiensi dan meningkatkan daya saingnya.
Rendahnya indeks pembangunan manusia yang berdampak pada merosotnya kemampuan daya saing bangsa Indonesia bersumber dari kualitas pendidikan di Indonesia yang masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan bangsa Indonesia dipengaruhi oleh beberapa komponen penunjang proses pendidikan, antara lain: kualitas guru, sarana pembelajaran seperti buku teks, media pembelajaran, sumber-sumber belajar serta peralatan laboratorium pembelajaran yang belum memadai. Minimnya komponen penunjang pendidikan tersebut dipengaruhi oleh minimnya alokasi dana penyelenggaraan pendidikan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun sumbangan dana pendidikan dari masyarakat (orang tua siswa).
Peranan guru yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sehingga Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 8 menegaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rokhani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk meningkatkan mutu guru, Dinas Pendidikan Kota Surabaya bekerjasama dengan Perguruan Tinggi (Unesa) telah menyelenggarakan penyegaran pendidikan (Continuing Education). Menurut Sahudi (2006) program ini dilaksanakan karena kompetensi guru di Surabaya belum optimal. Bahkan digambarkan oleh Masruri (2006) kondisi sekolah swasta pada umumnya masih memprihatinkan. Padahal perkembangan dunia pendidikan di Kota Surabaya sebagai kota metropolitan begitu pesat, apabila kemampuan guru kurang memadai akan merugikan siswanya. Program lainnya untuk peningkatan mutu guru yaitu dengan mendorong studi lanjut bagi guru yang belum sarjana (S1) dengan biaya Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Surabaya. Studi lanjut tersebut untuk sertifikasi guru sebagaimana yang diprogramkan oleh Pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja guru dan meningkatkan kesejahteraannya yang berupa tunjangan profesi, sebab income yang berupa gaji pokok dan tunjangan profesional serta tunjangan fungsional bagi guru, akan membawa dampak pada peningkatan kualitas layanan pembelajaran yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan.
Dari permasalahan-permasalahan yang terurai pada latar belakang di atas, dikemukakan rumusan permasalahan “Apakah besaran income yang diterima guru berpengaruh terhadap kualitas kinerjanya dalam meningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya ?” Dalam penelitian mempunyai tujuan-tujuan untuk mengetahui besaran income yang diterima guru dalam meningkatkan kinerja dan kreativitas guru sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya.

Kajian Pustaka
Analisis penelitian ini mendasarkan pada teori kebutuhan akan income. Dalam beberapa pendapat bahwa income disamakan dengan penghasilan. Fatah (2006) menyatakan bahwa income merupakan penghargaan terhadap kualitas profesi, karena besar kecilnya didasarkan pada kualitas produk yang dihasilkan. Sedangkan menurut Komarudin (1998) bahwa penghasilan merupakan pengakuan atau recognition atas kinerja yang telah dilaksanakan oleh seseorang dan akan merupakan pendorong atau motivator yang kuat bagi kinerja berikutnya. Income diberikan pada seseorang bukan karena jasa atau prestasi, tetapi mempunyai kecenderungan agar karyawan dapat berprestasi atau berjasa lebih baik dari yang pernah dilakukannya. Penghasilan diberikan pada seluruh karyawan baik yang berprestasi maupun yang tidak berprestasi.
Kinerja guru (Job Performance) merupakan sejumlah hasil kegiatan yang telah dilaksanakan atau dilakukan oleh guru sesuai profesinya sebagai guru. Suman (2005) mendefinisikan kinerja sebagai “sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang kepada sekelompok orang”. Rao (dalam Mulyasa, 2007 ) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil dari kemampuan serta usaha. Sedangkan menurut Porter (2006) bahwa kinerja adalah succesfull role achievement yang diperoleh seseorang dari perbuatannya. Kinerja merupakan perilaku yang ditampakkan oleh individu atau kelompok.
Dalam mencapai sesuatu seseorang biasanya termotivasi oleh kinerja. Motivasi merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Sebab peranan motivasi bisa berfungsi sebagai pendorong kinerja. Kinerja adalah kapasitas yang dimiliki seseorang untuk melakukan atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Usaha adalah waktu dan tenaga yang dikeluarkan seseorang untuk mencapai motivasinya. Sedangkan motivasi adalah harapan, keinginan, dorongan hati, desakan untuk mencapai sesuatu. Motivasi diartikan sebagai sikap (menerima/menolak) terkait dengan minat, kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Dalam kaitannya dengan seseorang, maka motivasi dimaksudkan sebagai kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan seseorang untuk melakukan tugas yang menjadi tanggungjawabnya.
Kemampuan seseorang itu pada dasarnya merupakan hasil proses belajar, yang meliputi aspek-aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menurut Gagne (1992) hasil belajar merupakan perubahan yang meliputi cognitive, attitude dan psychomotor. Begitu juga pendapat Krathwohl (1994) yang menyatakan bahwa hasil belajar (learning outcomes) yang meliputi tiga domain, yaitu: (a) cognitive, (b) affective, dan (c) psychomotor, yang sering juga disebut dengan taxonomy of education objectives. Kemampuan yang meliputi tiga aspek tersebut akan mempengaruhi kinerja seseorang yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat keberhasilan organisasi dalam hal ini mutu pendidikan.
McClelland (1991) menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara motivasi kerja dan kinerja seseorang. Artinya setiap pekerja yang memiliki motivasi kerja tinggi akan menghasilkan prestasi kerja yang tinggi pula. Demikian juga bahwa income memiliki kaitan yang positif terhadap motivasi seseorang. Dengan imbalan income yang memadai akan menimbulkan motivasi kerja yang memadai pula. Teknik-teknik untuk memotivasi kinerja guru tersebut menurut Prabu Mangkunegara (2005) antara lain: (1) teknik pemenuhan kebutuhan, (2) teknik komunikasi persuasif. Pemenuhan kebutuhan guru merupakan fondamen yang mendasar bagi perilaku kerja. Manajemen tidak mungkin dapat memotivasi guru tanpa memenuhi kebutuhan yang memadai. Menurut Maslow (1995) hirarki kebutuhan guru meliputi: kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologi meliputi kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik dan sexual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Kebutuhan ini memerlukan pemenuhan penghasilan yang layak dan memadai bagi seorang guru.

Kerangka Konseptual Dan Hipotesis Penelitian
Penelitian ini berusaha mengungkap peran income guru dalam mendorong peningkatan kualitas kinerjanya dengan harapan mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya. Kerangka pemikiran yang telah dirancang dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar : Kerangka Konseptual Penelitian

Hipotesis
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan kerangka dasar teoritik dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Hipotesis Pertama
Peningkatan besara income yang diterima guru seperti: gaji, tunjangan, honorarium dan penghasilan lainnya, akan membawa pengaruh yang signifikan bagi peningkatkan kinerja guru antara lain dalam pengetahuan keterampilan, sikap, dan keterampilan. Peningkatan kinerja guru tersebut dilandasi oleh motivasi dan semangat kerja yang meningkat dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya sebagai guru Sekolah Dasar.
2. Hipotesis Kedua
Kinerja guru dalam merencanakan proses pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan bimbingan ekstrakurikuler dan melaksanakan bimbingan belajar intensif di Sekolah Dasar yang dilandasi motivasi dan semangat kerja yang meningkat berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar, seperti: Kualitas nilai, kualitas pembelajaran dan kuantitas belajar.
3. Hipotesis Ketiga
Peningkatan besaran income yang diterima guru seperti: gaji, tunjangan, honorarium dan penghasilan lainnya, akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar yang meliputi: Kualitas nilai, kualitas pembelajaran dan kuantitas belajar.

METODOLOGI PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh Income guru terhadap kinerjanya dalam meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya ini sebagai upaya untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran pengaruh income yang diterima guru terhadap produktifitas kinerjanya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar. Sesuai dengan tujuannya, penelitian ini dirancang sebagai model penelitian eksplanatori, yaitu untuk menjelaskan bagaimana peran income atau penghasilan guru dalam mendorong motivasi kinerjanya agar meningkatkan produktifitas kinerjanya, sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar.

Pembatasan Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada peran besaran income/penghasilan yang diterima guru dalam meningkatkan produktivitas kinerjanya sebagai guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya. Dalam penelitian ini, peningkatan kesejahteraan guru melalui peningkatan income penghasilan guru diwujudkan dalam bentuk peningkatan gaji guru, tunjangan profesional, tunjangan fungsional, dan honorarium yang diterima guru dalam suatu kegiatan. Sedangkan produktivitas kinerja guru meliputi kemampuan merencanakan pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran dan kemampuan membimbing belajar intensif serta kemampuan membimbing kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Peningkatan mutu pendidikan diwujudkan pada kriteria meningkatnya nilai Ujian Nasional (UNAS) dan nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS)

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru-guru Sekolah Dasar yang bertugas di wilayah Kota Surabaya, baik Sekolah Dasar Negeri maupun Sekolah Dasar Swasta yang jumlahnya mencapai 10.550 orang tersebar pada 563 Sekolah Dasar Negeri dan 412 Sekolah Dasar Swasta.

Sampel Penelitian
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik klaster ( cluster sampling ) berdasarkan area, yaitu populasi guru sekolah dasar dibagi menurut kecamatan-kecamatan yang ada di Surabaya. Masing-masing klaster ditentukan 6 responden yang terdiri dari 3 responden guru kelas 6 Sekolah Dasar Negeri dan 3 responden guru kelas 6 Sekolah Dasar Swasta. Dengan demikian setiap klaster kecamatan akan diambil 6 guru sekolah dasar sebagai sampel yang akan mewakili populasi kecamatan, sehingga jumlah sampel secara keseluruhan sebesar 31 x 6 = 186 sampel.

Analisis Data
Pemilihan jenis analisis data yang tepat merupakan faktor penting di dalam menjawab permasalahan penelitian. Untuk itu setelah mempertimbangan permasalahan tujuan dan hepotesis yang diajukan serta data yang tersedia, maka dalam penelitian ini digunakan 2 macam analisis, yaitu: 1) Analisis deskriptif, dan 2) Analisis regresi multivariat dengan model SEM (Structural Equation Modelling) versi 4.0.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Variabel Penelitian
Gaji
Tabel : Distribusi Frekuensi gaji Responden
No. Gaji Kriteria Frekuensi
f % % Kumulatif
1 13-15 Sangat Jelek 8 4% 4%
2 16-18 Jelek 43 23% 27%
3 19-21 Cukup 59 32% 59%
4 22-24 Baik 39 21% 80%
5 >24 Sangat Baik 37 20% 100%
Jumlah 186 100%
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial terkait dengan : (1) tanggung jawab, (2) keseragaman, (3) semangat kelompok, (4) penghargaan, (5) standar dan (6) kejelasan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya gaji yang berkategori tinggi akan berdampak pada guru yang bekerja di dalam lingkungan yang baik dan diperlihatkan dengan adanya pengaruh pada motivasi kerja serta perilaku mereka. Dengan iklim kerja yang baik akan mendukung tercapainya hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.

Tunjangan
Tabel : Distribusi Frekuensi Tunjangan Responden
No. Tunjangan Kriteria Frekuensi
f % % Kumulatif
1 25-28 Sangat Jelek 10 5% 5%
2 29-32 Jelek 52 28% 33%
3 33-36 Cukup 60 32% 66%
4 37-40 Baik 46 25% 90%
5 41-44 Sangat Baik 18 10% 100%
Jumlah : 186 100%
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial terkait dengan : (1) peralatan kerja yang memadai, (2) bahan kerja yang memadai, (3) suplai bahan kerja yang memadai., (4) kondisi kerja yang mendukung, (5) rekan sekerja yang mendukung, (6) aturan dan prosedur yang mendukung untuk bekerja, (7) kecukupan informasi untuk mengabil keputusan yang dikaitkan dengan kerja dan (8) waktu yang memadai untuk melakukan pekerjaan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya tunjangan dengan kategori tinggi akan berdampak pada penyelesaian tugas dengan baik pula.

Honorarium
Tabel: Distribusi Frekuensi Honorarium Responden
No. Honorarium Kriteria Frekuensi
F % % Kumulatif
1 28-31 Sangat Jelek 16 9% 9%
2 32-35 Jelek 54 29% 38%
3 36-38 Cukup 60 32% 70%
4 39-42 Baik 48 26% 96%
5 43-46 Sangat Baik 8 4% 100%
Jumlah : 186 100%

Data income tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya penghasilan dengan kategori tinggi akan berdampak pada penyelesaian tugas dengan baik pula. Dengan hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.

Kinerja Guru
Tabel : Distribusi Frekuensi Tingkat Kinerja Responden
No. Kinerja Guru Kriteria Frekuensi
f % % Kumulatif
1 67-71 Sangat Jelek 11 6% 6%
2 72-76 Jelek 33 18% 24%
3 77-81 Cukup 84 45% 69%
4 82-86 Baik 41 22% 91%
5 87-91 Sangat Baik 17 9% 100%
Jumlah : 186 100%
Sumber : Hasil Pengolahan

Data di atas menunjukkan bahwa dengan adanya kinerja yang berkategori tinggi akan berdampak pada budaya kerja yang baik pula. Dengan budaya kerja yang baik akan mendukung tercapainya hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.

Mutu Pendidikan

Tabel : Distribusi Frekuensi Mutu Pendidikan
No. Mutu Pendidikan Kriteria Frekuensi
f % % Kumulatif
1 36-43 Sangat Jelek 5 3% 3%
2 44-51 Jelek 37 20% 23%
3 52-59 Cukup 64 34% 57%
4 60-68 Baik 61 33% 90%
5 69-77 Sangat Baik 19 10% 100%
Jumlah : 186 100%
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial terkait dengan : (1) kondisi fisik dan kemampuan intelektual, (2) penguasaan akan pengetahuan dan keterampilan kerja yang dimiliki. Hal ini menunjukkan bahwa dengan banyaknya guru yang memiliki kemampuan kerja dengan kategori tinggi akan berdampak pada penyelesaian tugas dengan baik pula. Dengan hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.

Hasil Pengujian SEM
Tabel: Hasil pengujian analisis income yang meliputi Gaji, Tunjangan dan Honorarium Guru terhadap Kinerja Guru serta Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya

NO Variabel Ko-efisi en Ja lur S.E C.R
Syarat > 1,96 Probabi lity
Syarat
< 0,05 Keterangan
1 KG  GJ 2.25 0.258 2.716 0.006 Signifikan
2 KG  TJ 1.29 0.08 2.523 0.012 Signifikan
3 KG  HR 0.66 0.505 1.96 0.05 Signifikan
4 MP  TJ 0.82 0.405 1.96 0.05 Signifikan
5 MP  GJ 2.58 0.58 2.831 0.005 Signifikan
6 MP  HR 0.97 1.341 1.043 0.297 Tdk Signifikan
7 MP  KG 4.02 1.346 1.967 0.049 Signifikan
Sumber : data primer yang di olah

Dilihat dari data di atas, nilai CR dan probabilitas signifikansinya pada taraf signifikansi () = 0,05. Dapat ditemukan bahwa Pengaruh Insentif yang meliputi Gaji, Tunjangan dan Honorarium Guru terhadap Kinerja Guru serta Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya, sebagai berikut:
1. Gaji guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru, berarti hipotesis diterima.
2. Tujangan guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru, berarti hipotesis diterima
3. Honorarium guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru, berarti hipotesis diterima
4. Tunjangan guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis diterima
5. Gaji guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis diterima.
6. Honorarium guru tidak berpengaruh terhadap mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis ditolak.
7. Kinerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya berarti hipotesis diterima.
8. Variabel yang paling dominan mempengaruh kinerja guru adalah gaji, sedangkan yang paling dominan mempengaruhi mutu pendidikan adalah kinerja guru.

Analisis Hasil Penelitian
Analisis terhadap paparan data di lakukan berdasarkan pada temuan empiris maupun teori dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Pembahasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan kesesuaian dan keterkaitan masing-masing variabel dependen dan variabel independen.
Dari pengujian yang menggunakan program AMOS 4.0 melalui analisis SEM (Structural Equation ModelIing), hasil uji terhadap model baik melalui uji overall dan uji pengukuran dapat digambarkan bahwa model multilevel mampu menjelaskan fenomena mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya dalam beberapa aspek penting.
Hasil penelitian ini memberi jawaban bahwa model multilevel sangat baik untuk menjelaskan model income guru dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya atau menerima hipotesis.
Dengan menganalisis pengaruh income yang meliputi Gaji, Tunjangan dan Honorarium Guru terhadap Kinerja Guru serta Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya diharapkan kita mampu mendapat pemahaman bahwa penghasilan atau income yang diterima guru dari pemerintah atau yayasan akan berpengaruh terhadap kinerja guru yang pada akhirya dapat mempengaruhi mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya.
Dalam penelitian ini menemukan sebuah model yang menghubungkan lima variabel yang diajukan dalam model konseptual. Lima variabel tersebut meliputi: Gaji, Tunjangan, Honorarium Guru, Kinerja Guru serta Mutu Pendidikan,
- Indikator dari kelima variabel yang teridentifikasi tersebut, peneliti mengeliminasi satu indikator karena tidak memenuhi syarat loading factor, indikator dari variabel mutu pendidikan yaitu nilai ujian semester.
Sehingga indikator yang masih mampu digunakan sebagai pengukur variabel adalah sebagai berikut:
1. Variabel gaji diukur melalui indikator; Gaji Pemerintah, gaji Yayasan sekolah. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah gaji Pemerintah.
2. Variabel tunjangan guru. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah tunjangan pemerintah pusat kemudian tunjangan pemerintah daerah dan yang paling akhir adalah tunjangan komite sekolah
3. Variabel honorarium guru diukur melalui indikator: kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan insidentil. Indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah variabel adalah kegiatan Insidentil diikuti kegiatan bimbingan dan yang paling akhir kegiatan ektrakurikuler.
4. Variabel kinerja guru diukur melalui indikator: pengetahuan, sikap dan keterampilan guru. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah sikap kemudian keterampilan yang paling akhir pengetahuan
5. Variabel mutu pendidikan diukur melalui indikator: Kualitas nilai dan kuantitas belajar. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel kualitas nilai dan kemudian kuantitas belajar.
Dalam penelitian ini selain menemukan sebuah model baru seperti yang tersebut di atas, juga menemukan adanya pengaruh antara variabel pengaruh income yang meliputi gaji, tunjangan dan honorarium guru terhadap kinerja guru serta mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya sebagaimana hasil uji hipotesis
Penjelasan tentang pengaruh antara variabel pengaruh income yang meliputi gaji, tunjangan dan honorarium guru terhadap kinerja guru serta mutu pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya adalah sebagai berikut:

Pengaruh income yang meliputi: gaji, tunjangan dan honorarium guru terhadap kinerja guru
Dari hasil analisis deskriptif ditemukan para guru Sekolah Dasar di Kota Surabaya, pada umumnya memiliki kinerja dalam kriteria yang tinggi (72%). Tingginya kinerja guru ini didukung oleh income yang meliputi gaji, tunjangan dan honorarium sebagai atributnya. Melalui analisis SEM (Structural Equation Modelling) ditemukan bahwa, kinerja guru tersebut dipengaruhi oleh penghasilan yang diterimanya.
Dari hasil uji di atas didapat bahwa ketiga indikator yang dapat di gunakan sebagai pengukur dalam menjelaskan variabel income yaitu: Gaji, tunjangan dan honorarium, Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel income, dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah gaji guru diikuti kemudian tunjangan guru dan yang paling akhir adalah honorarium.
Dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian dengan analisis SEM (Structural Equation Modelling) melalui program AMOS 4.0 menunjukkan bahwa income secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kinerja guru.
Analisis ini, khususnya income memiliki tiga indikator, yaitu: Gaji, tunjangan dan honorarium guru. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel income, dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah gaji guru, diikuti tunjangan guru, kemudian yang paling akhir adalah honorarium guru. Hal ini berarti untuk meningkatkan kinerja guru para guru di sekolah dasar Kota Surabaya dengan program perbaikan penghasilan, maka pemerintah atau yayasan harus lebih mengutamakan gaji seorang pengajar, diikuti dengan tunjangan yang memadai, kemudian honorarium harus sesuai dengan kegiatannya.
Dengan temuan tersebut, berarti semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang guru akan semakin tinggi kebutuhan hidupnya. Karena motivasi itu terkait dengan kebutuhan (Buford, 1988), berarti semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin tinggi motivasi meningkatkan kinerjanya.

Pengaruh income yang meliputi; gaji, tunjangan dan honorarium guru Terhadap Mutu pendidikan
Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya pada umumnya menyatakan mutu pendidikan dalam kategori tinggi sedangkan sisanya rendah dengan indikator terdiri dari kualitas nilai dan kuantitas belajar.
Dari hasil analisis SEM indikator yang mampu menjelaskan variabel mutu pendidikan adalah: nilai ujian nasional dan nilai ujian akhir sekolah. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah kualitas nilai dan kemudian kuantitas belajar. Sedangkan income diukur melalui indikator: gaji, tunjangan dan honorarium guru. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel income dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah sikap kemudian keterampilan kemudian pengetahuan.
Dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian dengan analisis SEM (Structural Equation Modelling) melalui program AMOS 4.0 menunjukkan bahwa tidak semua indikator dari income berpengaruh terhadap mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya. Hanya dua dari indikator insentif yang berplengaruh terhadap mutu pendidikan yaitu gaji dan tunjangan guru sedangkan honorarium tidak berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Dilihat dari kebanyakan jawaban yang diberikan oleh responden income yang berupa honorarium tidak memberikan pengaruh terhadap mutu pendidikan, ini menjadikan guru menganggap honorarium hanyalah sesuatu penghasilan yang sifatnya hanya insidentil jadi tidak berpengaruh secara nyata terhadap mutu pendidikan.

Pengaruh Kinerja guru Terhadap Mutu pendidikan
Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya pada umumnya (70%) menyatakan mutu pendidikan dalam kategori tinggi sedangkan sisanya rendah dengan indikator terdiri dari kualitas nilai dan kuantitas belajar. Melalui analisis SEM (Structural Equation Modelling) ditemukan bahwa, mutu pendidikan dipengaruhi oleh kinerja guru.
Dari hasil analisis SEM indikator yang mampu menjelaskan Variabel mutu pendidikan adalah: kualitas nilai dan kuantitas belajar. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah indikator kualitas nilai dan kemudian kuantitas belajar.
Sedangkan kinerja guru diukur melalui indikator: pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah sikap kemudian keterampilan diikuti pengetahuan .

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di lakukan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Income atau penghasilan guru yang meliputi gaji, tunjangan dan honorarium guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Dengan demikian untuk meningkatkan kinerja guru yang meliputi (pengetahuan, sikap dan keterampilan), perlu diupayakan: Pertama, adanya kepedulian dan keberpihakan kepada guru-guru sekolah dasar utamanya masalah penghasilan. Kedua, adanya sistem pemberian penghasilan yang bisa memenuhi kebutuhan dasar guru. Ketiga, guru perlu menggunakan metode mengajar yang bervariasi.
2. Income yang meliputi gaji, tunjangan dan honorarium guru berpengaruhi positif terhadap mutu pendidikan. Namun tidak semua faktor income berpengaruh terhadap mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya. Hanya dua dari faktor income yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan yaitu gaji dan tunjangan guru sedangkan honorarium tidak berpengaruh terhadap mutu pendidikan.
3. Kinerja guru (melalui indikator pengetahuan, sikap, keterampilan) berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan (yang dilihat dari kualitas nilai dan kuantitas belajarnya). Kinerja guru memiliki peranan yang penting didalam mempengaruhi mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya.
4. Faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja guru dari income adalah gaji guru. Gaji dapat berpengaruh pada perubahan perilaku seorang guru yang meliputi (pengetahuan, sikap, keterampilan).
5. Faktor yang paling dominan mempengaruhi mutu pendidikan di sekolah dasar adalah kinerja guru. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa income yang berupa (gaji, tunjangan dan honorarium) memiliki pengaruh positif terhadap mutu pendidikan di sekolah dasar

Saran-saran
Beberapa saran yang dikemukakan dalam penelitian ini, antara lain:
Pertama, sistem pemberian income terhadap guru sekolah dasar hendaknya bisa memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga tidak mengurangi konsentrasi kinerja guru, sebab kinerja guru dipengaruhi oleh income guru yang berupa gaji, tunjangan dan honorarium.
Ketiga, peningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya yang berkaitan dengan kinerja para guru, disarankan kepada pengelola pendidikan sebagai berikut.
1. Diperlukan upaya-upaya yang bersifat komprehensif dan terpadu untuk memecahkan berbagai masalah dan hambatan yang dihadapi lembaga pendidikan terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2. Tenaga pengajar (guru) perlu ditingkatkan kualifikasi maupun kualitasnya sehingga memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang memadai sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.
3. Guru hendaknya bisa mengadakan temu kolegial secara periodik dengan sesama guru, untuk saling bekerjasama dalam memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul sebagai akibat perkembangan IPTEKS.
4. Guru hendaknya mampu menerapkan metode dan media pembelajaran secara bervariasi sesuai dengan karakteristik bahan ajar dan latar belakang siswa

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Pedoman Teoritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Byars, L.L, and Rue, L.W. 1997. Human Resources Management. Illinois: Irwin Inc
Coombs, PH. 1995. The World Crisis in Education. New York: Oxford University Press
Clark, D. 1998. Financing of Education in Indonesia. Manila: Asia Development Bank
Deckey & Adam. 1995. Basic Principles of Student Teaching. New Jersey: Pren-tice-Hall, Inc.
Depdiknas. 2006. Tiga Pilar Utama Renstra Pembangunan Pendidikan. Jakarta:Depdiknas.
________, 2002. Standar Kompetensi Guru Kelas Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Ditjen Dikti
Diknas Kota Surabaya, 2002. Buku Panduan Pendidikan tahun 2002. Surabaya: Humas Diknas Kota Surabaya.
Ferdinand, Augusty. 2000. Structural Equation Modelling. AMOS 4.0. Semarang: Universitas Diponegoro.
Fatah, Nanang. 1997. Unsur-unsur Biaya Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Furtwengler, D. 2002. Penilaian Kinerja. Yogyakarta: Andi
Gagne, R.M, Briggs,L.J.,Wager,W.W, 1992. Principles of Instructional Desighn (4th ed). New York: Renerhart and Winston, Inc.
Grounlund, M. E, 1977. Constructing Achievement Test (2th ed). Englewood: Prectie Hall,lnc
Haris, Richard. 1992. Personnel Administration in Education (3rd). Boston: Ally and Bacon Inc.
International Education, 2000. Highlights from the Second World Congress of Education International. Washington DC: Juli 2000
Jean Bowman, Mary. 1969. Reading in the Economics of Education. Chicago: UNESCO
Jerome S. Arcaro. 2005. Quality in Education: An Implementation Handbook. New york: St. Lucie , Press.
Johnson, WB. 1991. Global Workforce 2000 The New World Labour Market, Harvard Business Review, Historical Economie Global. New York: Prentice Hall.
Komarudin. 1995. Pengantar Pendidikan Ekonomi. Bandung: PPS IKP Bandung
Kuncoro, Mudrajad. 2004. Metode Kuantitatif. Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Kunal Sen & L iesbet Steer. 2005. Survay of Recent Developments. Bulletin of Indonesian Economic Studies ( BIES ). Jakarta: Vol. 41 no. 3, December 2005.
Krathwohl, D. R., 1985. Social and Behavioral Science Research. Calofornia: Jossey Bass. Inc
Langbein, Laura Irwin. 1980. Discovering Whether Programs Work: A Guide to Stastistical Methods For Program Evaluation. Santa Monica: Goodyear Pub. Company
Lockeed, M.E. & Verspoor. 1991. Improving Primary Education in Development Countries. London: Oxford University Press.
Leap, T.L, and Crino, M.D, 1990. Personnel/Human Resources Management. New York: Macmillan Publishing Company.
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Yang Profesional; Menciptakan Pembelajaran Yang Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Nadler, L. 1982. Designing Training Programs: The Critical Events Model. California: Wesley Publishing Company
Prabu Mangkunegoro. 2005. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM). Bandung: Refika Aditama.
Pickle, H.B. and Abrahamson, R.L. 1989. Small Business Management. Singapore: John Wiley & Son Ltd.
Proseeding Seminar Pemberdayaan Manusia Menuju Masyarakat Madani. Bogor: IPB tanggal 25-26 September 2000.
Sahudi. 2006. Program Penyegaran dan Studi Lanjut bagi Guru di Surabaya: Jawa Pos, Kamis, 4 Mei 2006.
Sudradjat, Hari. 2005. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Implementasi KBK. Bandung: Cipta Cekas Grafika.
Sudjana. 2003. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: Tarsito.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi. Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sumantri, Satriyo. 2006. Relevansi Kesarjanaan Jadi Pertimbangan Sertifikasi. Jakarta: Harian Kompas, Kamis 18 Mei 2006.
Steers, Richard M. 1991. Motivation and Work Behavior. New York: McGraw-Hili, Inc.
Tilaar, H.A.R. 2002. Membedah Pendidikan Nasional. Jakarta; Rineka Cipta
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diperbanyak oleh Penerbit Citra Umbara Bandung.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.
UNESCO. 2002. Financing Education: Invesment and Return ( Analysis of the World Education Indicator 2002. Paris: UNESCO Institute for Statistics
UNESCO – UNDP. 1997. Basic Education for Impowerment of the Poor. Bangkok: UNESCO-PROAP.
World Bank. 1998. Education in Indonesia: From Crisis to Recovery. Washington, DC: East Asia and Pasific Regional Office.
Yahya, M. 2003. Sistem Manajemen Pembiayaan Pendidikan: Suatu Studi tentang Pembiayaan Pendidikan Sekolah Dasar di Propinsi Sumatera Barat. Bandung: Disertasi UPI.
Zymelman, Manuel. 1975. Financing and Efficiency in Education. Boston: Himrod, Press

Tentang WASPODO TJIPTO SUBROTO

Saya seorang dosen di S1 PGSD FIP Unesa dan Dosen S2 Dikdas Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Di S1 mengampu mata kuliah rumpun IPS dan PKn. Sedangkan di S2 mengampu mata kuliah Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Multikultural, Kesetaraan Gender, dan Pembelajaran IPS SD. Pengalaman mengajar sekitar 25 tahun.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s